enjadi para nabi dan rasul, para shiddiqin, para syuhada, para ulama
dan orang-orang yang mengamalkan agama-Nya, yang mencintai-Nya, dan
mengikuti para rasul-Nya
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan
Adam ‘alaihis salam dari tanah di bumi dan airnya, lalu membentuknya
dengan bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Dia tiupkan ruh ke dalamnya,
maka jadilah dia sebagai manusia yang hidup yang terdiri dari daging,
darah, dan tulang. Hari penciptaan Adam ‘alaihis salam adalah hari Jumat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ
يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ
آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ
السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ
“Sebaik-baik
hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam
diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surge, dan pada hari itu ia
dikeluarkan darinya, dan Kiamat tidaklah QS.adi kecuali pada hari
Jumat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ
اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ
الْأَرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ فَجَاءَ مِنْهُمْ
الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلُ
وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ
“Sesungguhnya
Allah Ta’ala menciptakan Adam dari segenggam yang digenggam-Nya dari
semua tanah di muka bumi. Oleh karena itu, anak cucu Adam hadir sesuai
keadaan tanah (warna dan tabiatnya), maka di antara mereka ada yang
berkulit merah, putih, hitam dan antara itu. Ada pula yang lunak, keras,
yang jelek dan yang baik.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hadis ini hasan
shahih.” Hadis ini dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani dalam Al
Misykat (100) dan Ash Shahiihah (1630). Menurut penyusun Tuhfatul
Ahwadzi, hadis ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan
Baihaqi)
Setelah Adam hidup dan bisa bergerak, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu, Dia berfirman,
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,”
(QS. Al Baqarah: 31)
Menurut Ibnu Abbas, yaitu nama-nama yang biasa dikenal manusia, seperti
manusia, hewan, tanah, tanah yang datar, laut, gunung, unta, keledai dan
lain sebagainya seperti umat-umat dan lain-lain. Menurut Mujahid, Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan kepadanya nama setiap binatang, setiap
burung dan segala sesuatu. Menurut Ar Rabii’, Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengajarkan kepadanya nama-nama para malaikat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menunjukkan keutamaan Adam dan
kedudukannya di sisi-Nya kepada para malaikat, maka Dia tunjukkan kepada
malaikat segala sesuatu yang telah diajarkan kepada Adam, Dia
berfirman:
“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar
orang-orang yang benar!” (QS. Al Baqarah: 31)
Para malaikat pun menjawab,
“Mahasuci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah
Engkau ajarkan kepada kami.” (QS. Al Baqarah: 32)
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Adam untuk
memberitahukan kepada mereka nama-nama benda yang tidak diketahui para
malaikat; mulailah Adam menyebutkan nama-nama benda yang diperlihatkan
kepadanya, ketika itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para
malaikat,
“Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa
yang kamu sembunyikan?” (QS. Al Baqarah: 33)
Kemudian QS.adilah dialog antara Adam ‘alaihis salam dengan para
malaikat sebagaimana yang diceritakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam kepada kita:
خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ وَطُولُهُ
سِتُّونَ ذِرَاعًا ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَسَلِّمْ عَلَى أُولَئِكَ مِنْ
الْمَلَائِكَةِ فَاسْتَمِعْ مَا يُحَيُّونَكَ تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ
ذُرِّيَّتِكَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَالُوا السَّلَامُ عَلَيْكَ
وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَزَادُوهُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ آدَمَ فَلَمْ يَزَلْ الْخَلْقُ يَنْقُصُ حَتَّى
الْآنَ
“Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam
dengan tingginya 60 hasta, kemudian Dia berfirman, “Pergilah dan ucapkan
salam kepada para malaikat itu, lalu dengarkanlah salam penghormatan
mereka kepadamu; sebagai salammu dan salam keturunanmu.” Maka Adam
berkata, “As Salaamu ‘alaikum.” Mereka menjawab, “As Salaamu ‘alaika wa
rahmatullah,” mereka menambah “wa rahmatullah.” Maka setiap orang yang
masuk ke surga mengikuti rupa Adam, dan bentuk makhluk senantiasa
berkurang (semakin pendek) hingga sekarang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam
untuk menghormatinya, maka mereka pun sujud kecuali Iblis, ia menolak
sujud dan bersikap sombong terhadap perintah Tuhannya, lalu Allah
Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepadanya –sedangkan Dia lebih mengetahui-,
“Wahai
Iblis! Apa yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan
dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu
(merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS.. Shaad: 75)
Lalu Iblis menjawab dengan angkuhnya,
“Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS.. Shaad: 76)
Iblis
tidak menyadari padahal tanah lebih baik daripada api, tanah lebih
bermanfaat daripada api, karena pada tanah terdapat ketenangan, mudah
diolah dan menumbuhkan tanaman, sedangkan pada api terdapat keadaan yang
tidak terarah, ringan, cepat dan membakar.
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya dan
menjadikannya terusir dan terlaknat,
Dia berfirman,
“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang
terkutuk,– Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”
(QS.. Shaad: 77-78)
Kemudian Iblis semakin benci
kepada Adam dan keturunannya, dia bersumpah dengan nama Allah untuk
menghias keburukan kepada mereka, dia berkata, “Demi kekuasaan Engkau,
aku akan menyesatkan mereka semuanya,—Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas
di antara mereka.” (QS.. Shaad: 82-83)
Maka Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepadanya,
“Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu
dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya.”
(QS.. Shaad: 85)
As Suddiy menceritakan dari Abu
Shalih dan Abu Malik dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah dari Ibnu Mas’ud
serta dari beberapa orang sahabat, bahwa mereka berkata, “Iblis
dikeluarkan dari surga dan Adam ditempatkan di surga, maka Adam
berjalan-jalan di surga sendiri tanpa ada pasangan yang dapat
menenteramkannya, ia pun tidur, ketika bangun, ternyata di dekat
kepalanya ada seorang wanita yang duduk, Allah Subhanahu wa Ta’ala
menciptakannya dari tulang rusuknya.
Adam lalu bertanya kepadanya, “Siapa engkau?” Ia menjawab, “Seorang
wanita.” Adam bertanya, “Untuk apa engkau diciptakan?” Ia menjawab,
“Agar engkau dapat merasa tenteram denganku.” Lalu para malaikat berkata
kepadanya melihat ilmu yang dimiliki Adam, “Siapa namanya wahai Adam?”
Ia menjawab, “Hawa’.” Mereka berkata lagi, “Mengapa (disebut) Hawa’?”
Adam menjawab, “Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Adam dan istrinya Hawa’ untuk
tinggal di surga dan memakan buah-buahan yang ada di sana serta menjauhi
sebuah pohon sebagai ujian kepada keduanya, Dia berfirman,
“Wahai Adam! diamilah olehmu dan istrimu surga ini, dan makanlah
makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai,
dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk
orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah: 35)
Allah
Subhanahu wa Ta’ala juga memperingatkan Adam dan istrinya agar tidak
tergoda oleh Iblis serta mengingatkan permusuhan Iblis kepada keduanya,
Dia
berfirman,
“Wahai Adam! Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi
istrimu, maka sekali-kali janganlah ia sampai mengeluarkan kamu berdua
dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.” (QS. Thaha: 117)
Mulailah
Iblis berpikir tentang cara menyesatkan Adam dan Hawa’, setelah
berhasil menemukan caranya, maka ia pun melakukan rencananya itu, ia pun
mendatangi Adam dan Hawa’ dan berkata,
“Wahai Adam! Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon kekekalan dan
kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS.. Thaha: 120)
Maka Adam dan
Hawa membenarkan ucapan Iblis itu karena sumpahnya, dimana menurut
keduanya tidak mungkin ada seorang yang berani bersumpah secara dusta
dengan nama Allah, maka Adam dan Hawa’ pun pergi mendatangi pohon itu
dan memakan buahnya. Ketika itulah terjadi peristiwa yang mengejutkan,
keduanya terbuka auratnya dan telanjang karena maksiatnya dan keduanya
pun merasa malu dan sedih sekali, segeralah keduanya mendatangi
pepohonan dan memetik daun-daunnya untuk menutupi auratnya, maka Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Adam dan Hawa’,
“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku
katakan kepadamu, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi
kamu berdua?” (QS.. Al A’raaf: 22)
Ketika itu Adam dan
Hawa’ sangat menyesal sekali karena telah bermaksiat kepada Allah,
segeralah keduanya bertobat dan beristighfar, keduanya berkata,
“Ya Tuhan Kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau
tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami
termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.. Al A’raaf: 23)
Setelah
Adam dan Hawa’ menyesal dan beristighfar, maka Allah Subhanahu wa
Ta’ala menerima tobatnya dan memerintahkan keduanya untuk turun ke bumi
dan hidup di sana.
Mulailah Adam hidup di bumi dan membuka lembaran perjalanan hidupnya
yang baru di sana. Di bumi itu, Adam memiliki banyak keturunan, ia
mendidik dan mengajarkan mereka serta memberitahukan mereka, bahwa hidup
di dunia merupakan ujian dan cobaan, dan hendaknya mereka berpegang
teguh dengan petunjuk Allah serta berwaspada terhadap tipu daya setan.
Ia juga mengajak keturunannya agar menyembah Allah, memberitahukan
kepada mereka tentang kebenaran dan keimanan, memperingatkan mereka akan
bahayanya syirk, kemaksiatan, dan bahayanya menaati setan sampai ia
wafat.
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimi’rajkan ke langit, maka
Beliau bertemu Nabi Adam ‘alaihis salam di langit pertama dan dikatakan
kepada Beliau, “Ini adalah bapakmu Adam ‘alaihis salam, maka ucapkanlah
salam kepadanya.” Maka Beliau mengucapkan salam kepadanya dan Adam
‘alaihis salam menjawab salamnya dan berkata, “Selamat datang anak yang
saleh dan nabi yang saleh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberitahukan kepada kita, bahwa
manusia akan mendatangi Adam ‘alaihis salam dan berkata, “Wahai Adam,
engkau adalah bapak manusia. Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya,
meniupkan ruh (ciptaan)-Nya kepadamu, dan memerintahkan para malaikat
untuk sujud kepadamu dan menempatkanmu di surga, tidakkah engkau
memberikan syafaat untuk kami kepada Tuhanmu, tidakkah engkau melihat
keadaan kami ini dan apa yang menimpa kami? Tetapi Adam ‘alaihis salam
tidak bisa memberikannya dan menyebutkan uzurnya. Ia malu kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala karena pernah memakan pohon yang dilarang-Nya
sehingga ia menyuruh mereka pergi mendatangi nabi yang lain.
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalaah.
Marwan bin Musa
Maraaji’: Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net), Qashashul Anbiya’, Al Maktabatusy Syamilah dll
Sumber Artikel www.KisahMuslim.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar